Tag Archives: kesejahteraan

KENAIKAN KONSUMSI BBM KARENA KENAIKAN JUMLAH KENDARAAN?

Pemerintah kembali akan mengurangi anggaran untuk subsidi BBM sehingga akan berdampak terhadap kenaikan harga BBM.  Kenaikan harga BBM ini tentunya berdampak terhadap peningkatan harga barang konsumsi sehingga pada gilirannya akan berdampak terhadap daya beli dan kesejahteraan keluarga.  Kebijakan peningkatan harga BBM tentunya merupakan hal yang sulit bagi pemerintah karena bukan merupakan kebijakan yang populis menjelang pemilu 2014.

Melonjaknya konsumsi BBM bersubsidi dianggap sebagai  konsekuensi logis dari peningkatan penjualan mobil dan motor (Kompas, 12 Maret 2012).  Pada tahun 2011, penjualan mobil dan motor mencapai lebih dari 800-an ribu unit mobil dan  sekitar 7.5 juta unit motor.  Peningkatan penjualan kendaraan bermotor ini ditengarai sebagai penyebab meningkatnya jumlah konsumsi BBM bersubsidi.  Sinyalemen ini patut dikaji lebih teliti agar penghitungan jumlah BBM yang dikonsumsi untuk kendaraan bermotor bisa lebih akurat.

Dengan menggunakan data yang disajikan dalam Kompas (12 Maret 2012), laju pertumbuhan konsumsi BBM memang terkait dengan laju pertambahan jumlah kendaraan bermotor (Gambar 1).  Pada tahun 2007-08, kendaraan bermotor bertambah sekitar 13.8 persen dan laju konsumsi BBM sekitar 9.6 persen.  Ketika laju pertambahan jumlah kendaraan pada tahun 2008-09 meningkat hanya 11.3 persen, laju konsumsi BBM juga meningkat dengan persentase yang lebih rendah (6.9%).  Secara konsisten terlihat juga pada tahun 2009-10, dimana laju pertambahan kendaraan bermotor meningkat menjadi 12.2 persen, laju konsumsi meningkat 7.7 persen.  Selisih perbedaan laju pertambahan kendaraan dan konsumsi dalam waktu 3 periode relatif konsisten, yaitu sekitar 4.2-4-5%.

 

Gambar 1. Tren Laju Pertumbuhan Jumlah Kendaraan Bermotor dan Konsumsi BBM

Pada tahun 2010-11 terjadi fenomena yang tidak konsisten dengan 3 tahun sebelumnya.  Laju pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor menjadi 11.9 persen, lebih rendah dari laju pada tahun sebelumnya, namun laju konsumsi BBM meningkat dengan 11.5 persen, sangat jauh lebih tinggi dibanding dengan laju pada tahun sebelumnya.  Mungkin saja, peningkatan konsumsi BBM dengan laju yang fantastis pada tahun 2010-11 ini disebabkan adanya pertumbuhan jumlah alat-alat yang berbahan bakar premium dan solar (misalnya: kapal motor nelayan) dan kebutuhan BBM lainnya yang cukup signifikan.  Hanya saja, dengan fakta bahwa banyaknya nelayan yang mengeluhkan kondisi ekonomi dan tingginya biaya melaut, maka kecil kemungkinannya mereka berkontribusi cukup besar terhadap pertumbuhan konsumsi BBM yang cukup besar.

Penjelasan logis dari tingginya laju konsumsi pada tahun 2010-11 sangat mungkin dikaitkan dengan maraknya penyelundupan ke luar negeri dan/atau penjualan BBM bersubsidi untuk industri atau untuk kapal asing.  Adanya perbedaan harga yang besar antara BBM industri dan BBM bersubsidi menjadi insentif untuk melakukan perdagangan BBM bersubsidi secara illegal untuk industri ataupun untuk diselundupkan.  Jumlah BBM yang diperdagangkan secara illegal pada tahun 2010-11 diperkirakan sekitar 1,4 juta KL  Penghitungan ini dengan asumsi bahwa laju pertumbuhan konsumsi mengacu pada trend normal tiga tahun terakhir yaitu sekitar 4.5 persen.  Dengan asumsi tersebut, seharusnya laju pertambahan konsumsi hanya sekitar 7.4 persen.  Pada kenyataannya, laju pertambahan konsumsi sekitar 11.5 persen.  Selisih angka keduanya (sekitar 4%) atau setara dengan 1.4 juta KL diduga karena ada peningkatan laju perdagangan BBM illegal. Dan, kalau itu benar, sungguh merupakan pemborosan subsidi BBM yang membebani anggaran pemerintah.

Penyelundupan dan/atau perdagangan BBM bersubsidi untuk industri merupakan masalah yang nyata namun susah untuk diberantas.  Selain karena secara ekonomi menguntungkan dengan adanya perbedaan harga yang cukup besar, pengawasan dan penegakan hukum yang sulit dilakukan dengan baik.  Tidak jarang, praktek penyelundupan juga melibatkan oknum aparat keamanan yang mengambil keuntungan karena adanya perbedaan harga BBM.

Pengurangan subsidi BBM yang berdampak dengan kenaikan harga BBM di satu sisi diharapkan dapat mengurangi perbedaan harga BBM subsidi dengan harga BBM untuk industri dan harga BBM di pasar dunia.  Dengan demikian, akan mengurangi keinginan untuk melakukan praktek perdagangan BBM illegal. Peningkatan harga BBM bagi kelompok masyarakat yang memiliki kendaraan bermotor juga diharapkan berdampak positif terhadap perilaku hemat menggunakan bahan bakar minyak sebagai bentuk coping strategy. Disisi lain, peningkatan harga BBM juga berdampak negatif terhadap tingkat kesejahteraan kebanyakan keluarga, terutama keluarga yang hidup di ambang garis kemiskinan karena peningkatan harga BBM akan memicu peningkatan harga barang kebutuhan pokok. Oleh karenanya, alokasi anggaran untuk subsidi tidak saja dialihkan untuk pengembangan infrastruktur, tetapi juga untuk membuat sistem social safety net sehingga mereka yang terdampak tidak masuk ke dalam kemiskinan.