Call for Paper

The Fifth International Community, Work and Family will take place on 17-19 July 2013 at The University of Sidney in Sidney, Australia.

The conference focuses on how the rapid changes and transitions in society present challenges and opportunities for families, communities and organizations, with special focus on work, families and communities in globalising world.

Online call for abstract submission close: Monday, 28 January 2013

Further and detail information

Pusat Layanan Informasi Perlindungan Konsumen

Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen (IKK), Fakultas Ekologi Manusia, IPB ditunjuk oleh Direktorat Perlindungan Konsumen, Kementerian Perdagangan sebagai salah satu dari delapan perguruan tinggi yang akan menyediakan layanan informasi tentang perlindungan konsumen. Pusat layanan informasi ini berupa seperangkat komputer yang akan ditempatkan di lobby Departemen IKK, sehingga mudah diakses oleh mahasiswa dan masyarakat umum secara mandiri melalui komputer yang terhubung langsung dengan sistem informasi yang ada di Direktorat Perlindungan Konsumen.  Selain penyediaan informasi perlindungan konsumen, pusat layanan informasi ini bisa juga menerima laporan keluhan konsumen.

Penghargaan untuk Departemen IKK

Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen (IKK), Fakultas Ekologi Manusia, IPB menerima penghargaan sebagai penggiat perlindungan konsumen dari Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN).  Penghargaan tersebut diberikan dalam rangka pencanangan HARI KONSUMEN NASIONAL yang ditetapkan tanggal 20 April 2012 dan diberikan kepada Departemen IKK yang secara kontinyu memperjuangkan dan mengajarkan pendidikan dan perlindungan konsumen sejak tahun 1980-an. Sumber: http://ditjenspk.kemendag.go.id/index.php/public/information/articles-detail/berita/44

KENAIKAN KONSUMSI BBM KARENA KENAIKAN JUMLAH KENDARAAN?

Pemerintah kembali akan mengurangi anggaran untuk subsidi BBM sehingga akan berdampak terhadap kenaikan harga BBM.  Kenaikan harga BBM ini tentunya berdampak terhadap peningkatan harga barang konsumsi sehingga pada gilirannya akan berdampak terhadap daya beli dan kesejahteraan keluarga.  Kebijakan peningkatan harga BBM tentunya merupakan hal yang sulit bagi pemerintah karena bukan merupakan kebijakan yang populis menjelang pemilu 2014.

Melonjaknya konsumsi BBM bersubsidi dianggap sebagai  konsekuensi logis dari peningkatan penjualan mobil dan motor (Kompas, 12 Maret 2012).  Pada tahun 2011, penjualan mobil dan motor mencapai lebih dari 800-an ribu unit mobil dan  sekitar 7.5 juta unit motor.  Peningkatan penjualan kendaraan bermotor ini ditengarai sebagai penyebab meningkatnya jumlah konsumsi BBM bersubsidi.  Sinyalemen ini patut dikaji lebih teliti agar penghitungan jumlah BBM yang dikonsumsi untuk kendaraan bermotor bisa lebih akurat.

Dengan menggunakan data yang disajikan dalam Kompas (12 Maret 2012), laju pertumbuhan konsumsi BBM memang terkait dengan laju pertambahan jumlah kendaraan bermotor (Gambar 1).  Pada tahun 2007-08, kendaraan bermotor bertambah sekitar 13.8 persen dan laju konsumsi BBM sekitar 9.6 persen.  Ketika laju pertambahan jumlah kendaraan pada tahun 2008-09 meningkat hanya 11.3 persen, laju konsumsi BBM juga meningkat dengan persentase yang lebih rendah (6.9%).  Secara konsisten terlihat juga pada tahun 2009-10, dimana laju pertambahan kendaraan bermotor meningkat menjadi 12.2 persen, laju konsumsi meningkat 7.7 persen.  Selisih perbedaan laju pertambahan kendaraan dan konsumsi dalam waktu 3 periode relatif konsisten, yaitu sekitar 4.2-4-5%.

 

Gambar 1. Tren Laju Pertumbuhan Jumlah Kendaraan Bermotor dan Konsumsi BBM

Pada tahun 2010-11 terjadi fenomena yang tidak konsisten dengan 3 tahun sebelumnya.  Laju pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor menjadi 11.9 persen, lebih rendah dari laju pada tahun sebelumnya, namun laju konsumsi BBM meningkat dengan 11.5 persen, sangat jauh lebih tinggi dibanding dengan laju pada tahun sebelumnya.  Mungkin saja, peningkatan konsumsi BBM dengan laju yang fantastis pada tahun 2010-11 ini disebabkan adanya pertumbuhan jumlah alat-alat yang berbahan bakar premium dan solar (misalnya: kapal motor nelayan) dan kebutuhan BBM lainnya yang cukup signifikan.  Hanya saja, dengan fakta bahwa banyaknya nelayan yang mengeluhkan kondisi ekonomi dan tingginya biaya melaut, maka kecil kemungkinannya mereka berkontribusi cukup besar terhadap pertumbuhan konsumsi BBM yang cukup besar.

Penjelasan logis dari tingginya laju konsumsi pada tahun 2010-11 sangat mungkin dikaitkan dengan maraknya penyelundupan ke luar negeri dan/atau penjualan BBM bersubsidi untuk industri atau untuk kapal asing.  Adanya perbedaan harga yang besar antara BBM industri dan BBM bersubsidi menjadi insentif untuk melakukan perdagangan BBM bersubsidi secara illegal untuk industri ataupun untuk diselundupkan.  Jumlah BBM yang diperdagangkan secara illegal pada tahun 2010-11 diperkirakan sekitar 1,4 juta KL  Penghitungan ini dengan asumsi bahwa laju pertumbuhan konsumsi mengacu pada trend normal tiga tahun terakhir yaitu sekitar 4.5 persen.  Dengan asumsi tersebut, seharusnya laju pertambahan konsumsi hanya sekitar 7.4 persen.  Pada kenyataannya, laju pertambahan konsumsi sekitar 11.5 persen.  Selisih angka keduanya (sekitar 4%) atau setara dengan 1.4 juta KL diduga karena ada peningkatan laju perdagangan BBM illegal. Dan, kalau itu benar, sungguh merupakan pemborosan subsidi BBM yang membebani anggaran pemerintah.

Penyelundupan dan/atau perdagangan BBM bersubsidi untuk industri merupakan masalah yang nyata namun susah untuk diberantas.  Selain karena secara ekonomi menguntungkan dengan adanya perbedaan harga yang cukup besar, pengawasan dan penegakan hukum yang sulit dilakukan dengan baik.  Tidak jarang, praktek penyelundupan juga melibatkan oknum aparat keamanan yang mengambil keuntungan karena adanya perbedaan harga BBM.

Pengurangan subsidi BBM yang berdampak dengan kenaikan harga BBM di satu sisi diharapkan dapat mengurangi perbedaan harga BBM subsidi dengan harga BBM untuk industri dan harga BBM di pasar dunia.  Dengan demikian, akan mengurangi keinginan untuk melakukan praktek perdagangan BBM illegal. Peningkatan harga BBM bagi kelompok masyarakat yang memiliki kendaraan bermotor juga diharapkan berdampak positif terhadap perilaku hemat menggunakan bahan bakar minyak sebagai bentuk coping strategy. Disisi lain, peningkatan harga BBM juga berdampak negatif terhadap tingkat kesejahteraan kebanyakan keluarga, terutama keluarga yang hidup di ambang garis kemiskinan karena peningkatan harga BBM akan memicu peningkatan harga barang kebutuhan pokok. Oleh karenanya, alokasi anggaran untuk subsidi tidak saja dialihkan untuk pengembangan infrastruktur, tetapi juga untuk membuat sistem social safety net sehingga mereka yang terdampak tidak masuk ke dalam kemiskinan.

Keluarga dan Karakter Bangsa

Oleh:

Yulina E. Riani (D-IKK)

Bangsa Indonesia telah mengalami pergeseran nilai dan karakter bangsa yang kian memprihatinkan. Nilai kejujuran yang menjadi indikator utama integritas sosial, kini seolah mulai tercerabut dari akar budaya bangsa ini. Ajaran adiluhung para pendiri bangsa untuk “bangunlah jiwanya dan bangunlah badannya”, seolah mengalami pembelokan. Bukannya berfokus  membangun jiwa dan karakter bangsa, selama ini kita justru sibuk berlomba memoles wajah bangsa ini dengan pembangunan materi tanpa kejelasan fungsi. Lantas, bagaimana menciptakan bangsa yang berkarakter apabila generasi muda bangsa sekarang justru sudah terkontaminasi oleh cara pandang dan perilaku yang menyimpang?

Baca selanjutnya

 

Mata Kuliah Manajemen Keuangan Konsumen

Deoartemen IKK (Ilmu Keluarga dan Konsumen) membuka dua kelas untuk mata kuliah Manajemen Keuangan Konsumen (MKK):

Rabu: 13-15:30 di RK A

Kamis 13-15:30 di RK PAU (akan dipindah ke kelas lain karena kapasitas)

Materi kuliah dapat dilihat dan di download pada halaman/bagian MKK pada blog ini.

(English) Perilaku Investasi Pada Anak Keluarga Nelayan

(English) Pencapaian MDG: Pendidikan Untuk Semua

Posko Tumbuh Kembang Anak: Mengurangi Dampak Trauma Pada Anak Balita

Selamat Datang!

Welcome to Hartoyo Blog. This blog presents my activities which relate to my job, interests and hobbies.  My job is a lecturer at Bogor Agricultural University (IPB) and currently appointed as the Head Department of Family and Consumer Sciences of the College of  Human Ecology.  My research interest is in the field of family economic and consumer sciences, in particular concerning the topic of family well-being.  My hobbies are enjoying the music and traveling.   Hopefully, you are enjoy with the contents and presentations in this blog.   The blog is still under construction, though !